home

search

Chapter 4 : An Unstoppable Determination

  Di sebuah desa kecil yang kental dengan tradisi dan kesulitan ekonomi, Ben tumbuh sebagai anak yang cerdas. Orang tuanya percaya pada kemampuannya, tetapi ayahnya selalu mengatakan bahwa tidak peduli seberapa banyak Ben belajar, pada akhirnya ia akan menjadi buruh. Bukan karena ayahnya meremehkannya, tetapi karena pengalaman pahit yang dialaminya sendiri

  Ayah Ben adalah seorang pria yang sangat dihormati di desa. Ia dikenal karena kecerdasannya dan telah menunjukkan bakat luar biasa sejak kecil. Namun, takdir berkata lain. Keterbatasan finansial menghambatnya, memaksanya untuk menekan mimpinya dan menerima kenyataan sebagai buruh. Selain itu, ia harus menanggung rasa malu karena kemiskinan keluarganya. Nasib yang sama menimpa saudara-saudara Ben. Mereka semua cerdas tetapi harus mengubur mimpi mereka dan fokus membantu orang tua mereka di ladang dan sawah.

  Namun Ben berbeda. Dia menolak menyerah pada keadaan. Dia bertekad untuk mengembangkan kecerdasannya dengan caranya sendiri. Diam-diam, dia mulai mencari cara untuk terus belajar tanpa menimbulkan kecurigaan. Dia menjadi "tukang mengerjakan PR" untuk teman-temannya, melakukan perbaikan elektronik kecil, dan bahkan menjual cheat game. Dia juga memiliki minat pada balap Mini 4WD—hobi yang secara diam-diam mengasah logika mekanik dan elektroniknya.

  Satu-satunya orang yang benar-benar percaya padanya adalah neneknya. Suatu malam, ketika Ben merasa putus asa, neneknya duduk di sampingnya dan menggenggam tangannya erat-erat.

  "Jangan pernah menyerah, anakku. Allah telah memberimu pikiran yang tajam, dan itu adalah anugerah. Jangan biarkan siapa pun meredupkan cahaya itu."

  Ben menatap neneknya, matanya berkaca-kaca. Dia tahu neneknya sudah tua. Cepat atau lambat, dia akan kehilangan satu-satunya orang yang benar-benar mendukungnya. Tetapi sebelum hari itu tiba, dia ingin membuktikan bahwa dia bisa mengubah nasibnya.

  Komputer Pertama dan Bencana di Rumah

  Ketika Ben duduk di kelas enam, ia menyentuh komputer untuk pertama kalinya. Itu adalah momen yang mengubah hidupnya. Sementara teman-temannya melihat komputer hanya sebagai mesin biasa, Ben melihatnya sebagai perangkat yang penuh dengan kemungkinan tak terbatas. Ia memahami struktur dan cara kerjanya dengan cepat, seolah-olah sesuatu di dalam dirinya telah terprogram untuk itu sejak lahir.

  Namun, ini bukanlah awal yang baik. Ketika ayahnya memperhatikan minat Ben yang semakin besar pada komputer, alih-alih bangga, ia malah curiga. Suatu hari, ketika ia memergoki Ben menggunakan komputer di rumah temannya, ledakan amarah tak terhindarkan.

  "Dari mana kamu dapat uang untuk menyewa komputer? Apa kamu mencurinya?!" bentak ayahnya.

  "Tidak, Ayah! Aku mendapatkan uang itu dengan membantu orang, mengerjakan PR, memperbaiki TV! Aku tidak mencuri!" Ben mencoba menjelaskan, tetapi ayahnya tidak mau mempercayainya.

  SMACK!

  Sebuah tamparan keras mendarat di pipinya. Ben terhuyung, merasakan sakit bukan hanya di wajahnya tetapi juga di lubuk hatinya

  Enjoying the story? Show your support by reading it on the official site.

  "Kau pikir aku bodoh?! Anak seusiamu tidak mungkin bisa menghasilkan uang sebanyak itu!"

  Ben ingin menangis, tetapi ia menahannya. Ia tahu bahwa air mata tidak akan mengubah apa pun. Selama beberapa minggu berikutnya, ia dikurung di dalam rumah, dilarang keluar atau bahkan menyentuh buku-bukunya. Baginya, itu adalah siksaan.

  Melarikan Diri ke Ladang dan Buku Rahasia

  But Ben didn't give up. He realized he had to make himself look more "normal" in his father's eyes. So, he started adapting. He worked in the fields, gathered grass for the cows, and collected snails for the ducks—pretending that he had accepted his fate.

  But it was all just an act.

  Every time he went to the fields, he hid a book about computers under his shirt. In the middle of the forest, under a shady tree, he would read in peace, away from anyone's interference.

  He also continued his small business—doing homework, selling game cheats, and fixing electronics. But he no longer kept the money at home. He crafted a clay piggy bank shaped like a chicken and buried it underground. He knew that if his father found the money, he would be accused of stealing again.

  Graduation Trip and Meeting Mr. Simbolon

  When graduation arrived, the school planned a trip outside the village. All of his friends were excited, but not Ben. He knew asking his father for money was out of the question. Even if he used his own savings, it would only cause more problems.

  So he talked to his grandmother.

  "Grandma, I want to go, but I'm afraid Father will be angry," he said softly.

  His grandmother smiled and pulled out some money she had saved.

  "Take this, my child. Don't be afraid. If Allah allows you to see the outside world, then go."

  Ben finally joined the trip. For the first time, he saw life beyond his village. But what truly changed his life was when he saw a man sitting in a coffee shop with a laptop. Driven by curiosity, he approached the man and asked many questions.

  The man was Mr. Simbolon, an electronics teacher at a junior high school. Seeing Ben's intelligence, he became interested and spoke with Ben's teacher, requesting permission to mentor him during the trip. For an entire week, Ben didn't join the sightseeing like his friends. Instead, he immersed himself in learning from Mr. Simbolon, absorbing every bit of knowledge he could.

  When the trip ended, Ben spoke to his father about his desire to study under Mr. Simbolon. But his father reacted with anger.

  "Study far away? With what money? Do you think we're rich?!"

  Ben tried to explain, but his father refused outright. His heart shattered. Once again, his dreams seemed out of reach.

  A Fading Hope and Grandmother's Departure

  With a heavy heart, Ben went to his grandmother's house—the only place where he could find peace.

  "Grandma, are we destined to stay poor forever?"

  His grandmother gently stroked his head.

  "No, my child. Fate can be changed with prayer and effort. You must keep fighting—never give up."

  Beberapa hari kemudian, neneknya meminta izin untuk membawa Ben keluar kota mengunjungi sepupu ayahnya. Di sana, Ben bertemu dengan kerabat jauhnya, yang memiliki perjuangan serupa—cerdas tetapi terhambat oleh keterbatasan finansial. Namun, satu hal yang menghiburnya: salah satu dari mereka sangat terampil dalam bermain game, dan mereka dengan cepat menjadi dekat.

  Ketika Ben kembali ke desanya, ia lebih bertekad dari sebelumnya untuk tidak menyerah pada mimpinya. Terlepas dari rintangan yang ada, ia percaya bahwa Allah telah menyiapkan jalan baginya.

  Harapan yang Masih Menyala dan Kepergian Nenek

  Seminggu setelah kembali dari rumah sepupunya, Ben mulai mengalami perasaan aneh. Dia bermimpi bahwa neneknya akan segera meninggal. Ketika dia menceritakan hal itu kepada orang lain, mereka menganggapnya aneh—bahkan beberapa menuduhnya melakukan praktik sihir.

  Namun intuisinya ternyata benar. Beberapa hari kemudian, ia menyaksikan neneknya menghembuskan napas terakhirnya. Hatinya hancur. Dalam diam, ia bertanya kepada Allah, "Kesalahan apa yang telah kulakukan sehingga pantas menerima hukuman ini?"

  Namun, Ben tidak menyerah. Dia berdiri di depan jenazah neneknya dan berbisik dalam hatinya,

  "Nenek, aku akan berjuang. Aku akan membuktikan mereka salah."

Recommended Popular Novels